SENYAP
Pria itu—Kecantikan dan ketampanan
wajahnya sudah tersohor sampai ke sudut-sudut kota, bahkan tikus-tikus kota
segera bersembunyi, melindungi wajah mereka yang terlalu buruk rupa dibanding
pria itu. Setiap kali langkah kakinya melenggak-lenggok di jalanan kota,
jalanan itu tak ubahnya catwalk
dengan lampu-lampu kota yang tampak gemerlap di atasnya. Semua mata yang
tadinya menunduk mencari koin atau
sekedar menghindari kalau-kalau ada paku serentak terangkat dan menatapnya bak
pangeran dari negeri dewa.
Tak sedikit perempuan iri dengan
kecantikan pria itu. Para perempuan pun berlomba berdandan untuk mengalahkan
kecantikan pria itu. Bahkan tak jarang mereka ingin mengoperasi wajah mereka,
namun sungguh sayang uang tak mengalir deras.
Di samping para perempuan, para
pria jatuh hati sampai tak sadar sudah mimisan kerap kali pria itu menampilkan
diri bak super model.
“Wahai pria, tak pernah sekalipun
aku mencintai satu di antara mereka kecuali kau.” Cermin itu bergeming dan pria
itu tersenyum menyentuh betapa halus dan bercahaya pipi tirusnya.
Sudah banyak perempuan dari
berbagai belahan kota datang dan pulang tanpa membawa hasil. Rumah berdinding
putih milik pria cantik itu menjadi saksi bisu atas kedatangan dan kepulangan
para perempuan yang sudah mengemis cinta kepada pria cantik itu.
Pria itu bukan langsung menolak
para perempuan itu. Setiap perempuan datang membawa harta mereka untuk
dipertaruhkan untuk setiap waktu memandang dan menyentuh kecantikan dan
ketampanan pria itu.
Suatu ketika di tengah malam.
Hujan lebat tak henti-hentinya mengetuk-ngetuk genting rumah pria cantik itu.
Sesekali terdengar halilintar memecah kesunyian. Pria itu gelisah dalam
tidurnya dan terbangun. Dia menuju cermin kesayangannya.
“Wahai pria, kecantikan dan
ketampananmu tetap bercahaya di tengah-tengah kegelisahanmu. Aku mencintaimu…”
Taaarrr…
Praaannnggg…
Suara halilintar keras diikuti
cermin itu jatuh. Hati serasa tersambar begitu hebatnya.
Hari-hari berlalu penuh
kegelisahan. Pria itu sudah bolak-balik ke pasar dan tak menemukan cermin yang
sesuai dengan hatinya. Suatu hari datanglah perempuan dari negeri antah
berantah. Dia membawa cermin besar dengan bingkai emas yang diukir lembut
dengan indahnya.
Sayangnya, perempuan itu tak
secantik perempuan-perempuan sebelumnya. Namun, pria itu tetap membuka pintu
rumahnya hanya untuk mendapatkan cermin yang dibawanya.
“Saya datang karena nenek meminta
saya membawakan cerminnya untukmu dan kau mau menghidupi saya.”
“Nenek?”
“Ya, wanita tersohor karena
kecantikannya. Dia meninggal saat hujan badai di tengah malam, setelah itu saya
berangkat ke sini.”
Pria itu tak percaya dengan
kata-kata si perempuan, namun dia tak peduli dan kembali mengagumi wajahnya
sendiri di depan cermin itu.
“Ah, wajah yang kurindu. Akhirnya
aku dapat melihatmu kembali.”
Desas-desus perempuan cermin itu
sudah mulai meluas, namun perempuan itu tak sekalipun ingin memandang maupun
menyentuh kulit pria cantik itu. Pria itu pada akhirnya tak memedulikan
perempuan itu karena hanya dia satu-satunya perempuan yang tak jatuh cinta
padanya. Walau begitu, terkadang terbersit dalam benaknya—apakah aku kurang cantik dimatanya?
“Nenek saya masih lebih cantik
dibandingkan kau.” Terang perempuan itu suatu malam.
Pria itu mengamuk mendengar
penjelasan dari perempuan yang tak cantik seperti perempuan-perempuan
sebelumnya. Dia tak pernah percaya dengan kecantikan nenek dari perempuan itu. Jika cucunya buruk rupa, neneknya pastilah
buruk rupa juga.
Pria itu pada akhirnya mengusir
perempuan itu setelah mencaci maki keburukan rupanya dan neneknya yang tidak
mungkin memiliki kecantikan melebihi dirinya.
Belasan tahun berlalu dan pria itu
masih selalu membisikkan bahwa hanya kecantikan dan ketampanan dirinyalah yang
membuatnya jatuh hati. Suatu hari dia
melihat keriput timbul di sela-sela kulitnya yang bagai berlian itu. Menua.
Dia tak pernah menyadari bahwa
manusia akan menua. Keriput-keriput itu semakin tumbuh banyak, meskipun dia
sudah berusaha menutupi dengan berbagai macam perias tradisional yang
ditinggalkan oleh almarhumah Ibunya.
Perlahan dia menyadari. Dia tak
memiliki siapa pun di hidupnya yang menua. Tak satupun perempuan dipilihnya
sebagai teman hidup. Cinta? Dia tak memilikinya kecuali dia selama ini jatuh
cinta pada wajahnya sendiri.
“Wahai pria, aku masih
mencintaimu. Tapi, aku tak pernah benar-benar tahu rasanya mencintai.”
Tangisnya tersedu-sedu dan menempeleng cermin itu dengan sisa-sisa kekuatannya
sebagai Pak Tua dan membanting semua periasnya ke lantai. Kecantikan dan
ketampanan yang membuat dirinya jatuh cinta pada dirinya sendiri hanya
membawa kekosongan.
“Karena keserakahanmu akan dirimu
sendiri, maka perasaan itu terkubur,” Jelas bayang mudanya dari cermin, “kau
mencintaiku bukan?” Lanjut pria cantik itu menyeringai.
“Bisakah aku kembali?”
“Terlambat.” Cermin itu kembali
menunjukkan wajah tuanya.
Kecantikan dan ketampananmu hanya titipan-Nya yang akan pudar seiring
usiamu, maka jangan menjadi serakah.
***
BIODATA
Einid Shandy – terlahir dari dini’s family di kota Malang. Telah menciptakan beberapa karya
berupa skenario film omnibus indie, Aku
Gadis Indonesia – DIMENSI, juga beberapa karya antologi puisi dan cerpen
indie bersama penulis-penulis seniornya. Menulis
adalah dunia yang dia ciptakan. Bisa mengenalnya melalui sosial media
dengan keywords Einid Shandy.
