Sunday, February 28, 2016

Senyap

SENYAP
Oleh: Einid Shandy

             Pria itu—Kecantikan dan ketampanan wajahnya sudah tersohor sampai ke sudut-sudut kota, bahkan tikus-tikus kota segera bersembunyi, melindungi wajah mereka yang terlalu buruk rupa dibanding pria itu. Setiap kali langkah kakinya melenggak-lenggok di jalanan kota, jalanan itu tak ubahnya catwalk dengan lampu-lampu kota yang tampak gemerlap di atasnya. Semua mata yang tadinya menunduk  mencari koin atau sekedar menghindari kalau-kalau ada paku serentak terangkat dan menatapnya bak pangeran dari negeri dewa.
              Tak sedikit perempuan iri dengan kecantikan pria itu. Para perempuan pun berlomba berdandan untuk mengalahkan kecantikan pria itu. Bahkan tak jarang mereka ingin mengoperasi wajah mereka, namun sungguh sayang uang tak mengalir deras.
              Di samping para perempuan, para pria jatuh hati sampai tak sadar sudah mimisan kerap kali pria itu menampilkan diri bak super model.
              “Wahai pria, tak pernah sekalipun aku mencintai satu di antara mereka kecuali kau.” Cermin itu bergeming dan pria itu tersenyum menyentuh betapa halus dan bercahaya pipi tirusnya.
              Sudah banyak perempuan dari berbagai belahan kota datang dan pulang tanpa membawa hasil. Rumah berdinding putih milik pria cantik itu menjadi saksi bisu atas kedatangan dan kepulangan para perempuan yang sudah mengemis cinta kepada pria cantik itu.
              Pria itu bukan langsung menolak para perempuan itu. Setiap perempuan datang membawa harta mereka untuk dipertaruhkan untuk setiap waktu memandang dan menyentuh kecantikan dan ketampanan pria itu.
              Suatu ketika di tengah malam. Hujan lebat tak henti-hentinya mengetuk-ngetuk genting rumah pria cantik itu. Sesekali terdengar halilintar memecah kesunyian. Pria itu gelisah dalam tidurnya dan terbangun. Dia menuju cermin kesayangannya.
              “Wahai pria, kecantikan dan ketampananmu tetap bercahaya di tengah-tengah kegelisahanmu. Aku mencintaimu…”
              Taaarrr…
              Praaannnggg…
              Suara halilintar keras diikuti cermin itu jatuh. Hati serasa tersambar begitu hebatnya.
***
              Hari-hari berlalu penuh kegelisahan. Pria itu sudah bolak-balik ke pasar dan tak menemukan cermin yang sesuai dengan hatinya. Suatu hari datanglah perempuan dari negeri antah berantah. Dia membawa cermin besar dengan bingkai emas yang diukir lembut dengan indahnya.
              Sayangnya, perempuan itu tak secantik perempuan-perempuan sebelumnya. Namun, pria itu tetap membuka pintu rumahnya hanya untuk mendapatkan cermin yang dibawanya.
              “Saya datang karena nenek meminta saya membawakan cerminnya untukmu dan kau mau menghidupi saya.”
              “Nenek?”
              “Ya, wanita tersohor karena kecantikannya. Dia meninggal saat hujan badai di tengah malam, setelah itu saya berangkat ke sini.”
              Pria itu tak percaya dengan kata-kata si perempuan, namun dia tak peduli dan kembali mengagumi wajahnya sendiri di depan cermin itu.
              “Ah, wajah yang kurindu. Akhirnya aku dapat melihatmu kembali.”
              Desas-desus perempuan cermin itu sudah mulai meluas, namun perempuan itu tak sekalipun ingin memandang maupun menyentuh kulit pria cantik itu. Pria itu pada akhirnya tak memedulikan perempuan itu karena hanya dia satu-satunya perempuan yang tak jatuh cinta padanya. Walau begitu, terkadang terbersit dalam benaknya—apakah aku kurang cantik dimatanya?
              “Nenek saya masih lebih cantik dibandingkan kau.” Terang perempuan itu suatu malam.
              Pria itu mengamuk mendengar penjelasan dari perempuan yang tak cantik seperti perempuan-perempuan sebelumnya. Dia tak pernah percaya dengan kecantikan nenek dari perempuan itu. Jika cucunya buruk rupa, neneknya pastilah buruk rupa juga.
              Pria itu pada akhirnya mengusir perempuan itu setelah mencaci maki keburukan rupanya dan neneknya yang tidak mungkin memiliki kecantikan melebihi dirinya.
              Belasan tahun berlalu dan pria itu masih selalu membisikkan bahwa hanya kecantikan dan ketampanan dirinyalah yang membuatnya jatuh hati.  Suatu hari dia melihat keriput timbul di sela-sela kulitnya yang bagai berlian itu. Menua.
              Dia tak pernah menyadari bahwa manusia akan menua. Keriput-keriput itu semakin tumbuh banyak, meskipun dia sudah berusaha menutupi dengan berbagai macam perias tradisional yang ditinggalkan oleh almarhumah Ibunya.
              Perlahan dia menyadari. Dia tak memiliki siapa pun di hidupnya yang menua. Tak satupun perempuan dipilihnya sebagai teman hidup. Cinta? Dia tak memilikinya kecuali dia selama ini jatuh cinta pada wajahnya sendiri.
              “Wahai pria, aku masih mencintaimu. Tapi, aku tak pernah benar-benar tahu rasanya mencintai.” Tangisnya tersedu-sedu dan menempeleng cermin itu dengan sisa-sisa kekuatannya sebagai Pak Tua dan membanting semua periasnya ke lantai. Kecantikan dan ketampanan yang membuat dirinya jatuh cinta pada dirinya sendiri hanya membawa  kekosongan.
              “Karena keserakahanmu akan dirimu sendiri, maka perasaan itu terkubur,” Jelas bayang mudanya dari cermin, “kau mencintaiku bukan?” Lanjut pria cantik itu menyeringai.
              “Bisakah aku kembali?”
              “Terlambat.” Cermin itu kembali menunjukkan wajah tuanya.
              Kecantikan dan ketampananmu hanya titipan-Nya yang akan pudar seiring usiamu, maka jangan menjadi serakah.
***




BIODATA


              Einid Shandy – terlahir dari dini’s family di kota Malang. Telah menciptakan beberapa karya berupa skenario film omnibus indie, Aku Gadis Indonesia – DIMENSI, juga beberapa karya antologi puisi dan cerpen indie bersama penulis-penulis seniornya. Menulis adalah dunia yang dia ciptakan. Bisa mengenalnya melalui sosial media dengan keywords Einid Shandy.