Firasat Ibu untuk anaknya
Oleh: Wendy Kiswha Cahlendra
Dalam suasana yang hening... sunyi...
waktu itu hari sabtu pukul 06.30 tiba-tiba Bbruaaakk
!! (Suara dari dalam kamar candra)
“Buuuk...!, Ibuuuk...!, Cepet buruan
kesini” Teriak pemuda usia 18 tahun dengan nama candra.
Cepat cepat siIbu berlari ke kamar
anaknya itu, kemudian.. jegrek ,Ibu membuka pintu kamar candra dengan nafas yang
cepat dan tersedu-sedu. “ada apa sih le... YaAllah kenapa semua kamu acak-acak
kayak gini le...?” Ujar Ibunya candra dengan wajah lemas dan seolah dari
matanya akan menumpahkan air mata.
“Ibu ini kemana saja sih..?!, ini
seragamku sekolah belum disetrika, mana ini udah jam segini” ucap candra dengan
nada setengah keras dan sinis, sambil melihat jam yang menempel didinding
kamarnya.
“Kamu ini sudah SMA sebentar lagi
sudah mau masuk perguruan tinggi, kok ya belum ada mandiri-mandirinya” kata
ibunya candra dengan nada lembut.
“halah ibu ini malah ceramah, sudah
ah setrikain dulu, aku mau sarapan” dengan melemparkan seragam sekolah kearah
ibunya.
Beginilah yang dilakukan candra
setiap kali kepada ibunya yang hanya tinggal denganya sebagai putra semata
wayang karena ayahnya sudah meninggal saat candra duduk di bangku SD beberapa
tahun silam dan mereka berkehidupan menengah kebaawah,candra memperlakukan seolah
ibunya adalah pembantunya. Tak hanya itu saja candra adalah anak laki-laki yang
super nakal dan jika ia meminta sesuatu pada orang tuanya harus dituruti, sak dhek sak nyet kata orang jawa
timuran. Jika tidak dituruti kemauanya maka ia akan marah besar. Namun sebenarnya
hati seorang ibu candra sering sakit karena ulahnya, apa daya ibu candra hanya
bisa diam dan beristighfar dalam
hatinya, serta menangis. Karena acapkali putranya tersebut dinasehati ia selalu
keras dan selalu melawan.
***
Setelah selesai sarapan, ia langsung
memakai seragam yang telah disetrika oleh ibunya .
“Bu... mana uang saku ?” sambil
tangan kirinya menadah kearah ibunya
“ini le... hati-hati ya dijalan le”
ibunya memberikan uang saku lima belas ribu dengan sikap yang tulus dan ikhlas.
Uang saku yang diberikan dan masih
ditangan ibunya disahut langsung oleh candra,tanpa berpamitan dengan baik,
bahkan cipika cipiki sebagai tanda anak ingin menempuh pendidikan agar ridho
orang tua menyertai ia berangkat kesekolahdengan terbirit-birit, padahal
sekolah hanya berjarak 400meteran dari rumahnya.
Sesampainya disekolah ia kena marah
pak Ajiz seorang guru yang terkenal disiplin dan tegas (cukup ditakuti oleh
murid-muridnya).
“Kau ini sudah berapa kali kau
terlemabat, tidak tahu malu,..! kelas
tiga seharusnya memberi contoh yang baik” ucap pak Ajiz dengan mata memerah dan
melotot kearah candra.
Candra memang hampir setiap hari
terlambat kesekolah, dan itu merupakan kisah yang menghreankan para guru untuk
murid satu ini.
“halah pak...pak... masih jam segini
saja sudah dimarahi” kata candra sambil melihat jam tanganya dan seolah
meremehkan peringatan pak ajiz.
Pak ajiz terdiam dan
mengeleng-gelengkan kepalanya. Setelah candra mendapat ceramah dari pak Ajiz,
ia diperbolehkan masuk kelas dan mengikuti pelajaran. Ditengah-tengah pelajaran
ia tertidur dan dibangunkan oleh gurunya bu.marni.
“Ajiz... kamu ini tidur saja, ini
perhatikan biar kamu itu bisa, dasar anak pemalas” sambi meng oprak-oprak candra.
Candra terbangun “Aduh bu sorrylah ngantuk berat ini, semalam
habis begadang maen PS”
“Dasar anak nakal, yasudah kalo kamu
emang nggak bisa di eman terserah”
kata bu marni sambil menahan emosi kepada candra.
***
Sepulang dari sekolah candrapun
pulang, masuk kedalam rumah tanpa mengucap salam, atau memberitahu ibunya. Ibu
candra sedang tertidur disofa ruang tamu karena kelelahan setelah pulang dari
bekerja sebagai buruh tani. Dalam tidur siangnya ibu candra bermimpi, dalam
mimpinya menggambarkan anaknya candra sedang dilanda keadaan yang susah. Dan
sekejap ibu candra terbangun.
“Astaghfirullah....” bergegas Ibu
candra bangun menuju kamar mandi rumahnya untuk mencuci muka dan menuju dapur
untuk minum.
“Candra....? le...?” Sontak ibunya
memanggil-manggil candra, dengan derap langkah yang cepat menuju kekamar candra
. dan membukanya secara perlahan.
“Aduh ibu ini apaan sih... berisik
panggil-panggil” kata candra sambil menyisir rambutnya didepan cermin. Seperti
akan kembali berangkat lagi padahal baru saja pulang sekolah.
“Alhamdulillah le... sudah pulang,
kamu mau kemana ?, kok rapi sekali ?” tanya ibu
“Alah ... mau tau aja urusan anak
muda ibu ini” , jawab candra dengan remeh
“mau kemana le... jawab pertanyaan
ibu dengan jujur” dengan raut wajah yang penasaran.
“Cerewwet deh ibu ini... pliss bu... ini malam minggu, aku mau
ngecamp sama teman-teman ke pantai,
oh ya bu... minta uangnya ya... 100 ribu aja buat beli bekal dan keperluan”
sahut candra memang dengan alasan yang jujur.
“Le... kok kamu mendadak begini, ibu
lagi nggak enak badan, mbok ya kamu temenin ibu ya le...” kata ibu dengan
memohon kepada sicandra.
“Halah bu...bu... sakit apa sih...
wong jelas jelas sehat gini” dengan melirik ke arah ibu, dan sambil terus
menyisir rambutnya.
Tak lama setelah perbincangan datang
rombongan teman-teman candra dengan memakai motor, dari luar terdengar ada yang
berteriak “Wooooyy dra... Let’s go”.
Nampaknya salah satu teman candra yang berteriak.
“Tuh ... bu ayo mana uang sakunya,
aku mau berangkat nih teman-teman udah pada nungguin” dengan tergopoh-gopoh dan
tanganya menadah keibunya.
“Ibu ndak punya uang segitu le, ibu
punya firasat buruk le... sebaiknya jangan pergi, temani ibu le...” Ibunya
sambil meronta-ronta.
“elah
dalah.... tambah ceramah” lagi-lagi ucapan yang tidak sopan keluar dari
mulut candra.
Tiiiin....tiiiin...
suara bel motor
teman-teman candra. Tanda agar candra segera bergegas keluar dan berangkat.
Segera ia keluar dan menuju kamar ibunya untuk mengambil uang dialmari tempat
ibunya biasa menyimpan, ada sekitar 75 ribu yang ia ambil karena yang ada hanya
itu. Segera ia keluar dan menyapa teman-temanya.
“Aduh lama bener kamu ndra” teman
candra yang motrnya akan ditumpangi candra
“sorrylah
bro... ayo deh let’s go” kata candra sambil bergegas naik motor dan
memakai helm.
Berangkatlah candra dan
teman-temannya. Untuk kesekian kalinya ibu candra menangis, dan raut kesedihan
saat itu nampak jelas meratapi anaknya yang begitu tidak memiliki rasa
hormat,sayang dan cinta pada ibunya. Tidak lama hanya selang 2 jam kemudian
waktu itu pukul 6.30 sore, 2 orang polisi dan 1 orang berpakaian putih seperti
orang yang bekerja dirumah sakit datang menhampiri ibu candra dan mengabarkan
bahwa candra mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang kritis dirumah sakit
kota ia tinggal. Sontak ibu candra kaget dan langsung bergegas menuju rumah
sakit dengan menumpang mobil bapak polisi tersebut.
Sesampainya dirumah sakit ibu candra
langsung diarahkan oleh bapak polisi keruangan dimana candra dirawat.
“YaAllah le... Ibu sudah bilang
jangan pergi... sekarang kamu seperti ini” Ibu candra berkata sambil mengelus-elus kepala candra. Menangis karena
tak tega melihat anaknya terkapar dengan luka disekitar tubuh dibalut banyak
perban. Saat itu candra masih dinyatakan dalam keadaan koma karena kecelakaan
yang dialami cukup parah.
Memang inikah jawaban dari sebuah
mimpi yang dialami ibu candra sewaktu tertidur siang tadi ? , atau hanya
sebagai refleksi bagi candra jika nantinya ia sembuh dari sakit yang dialaminya
sewaktu kecelakaan ?. tentunya ada benarnya kita meyakini bahwa perkataan si
Ibu adalah saran dan kebenaran mutlak bagi candra , untuk melakukan tindakanya
kepada siapapun khususnya Ibunya yang seorang janda dan ia yang berperan dalam
kehidupan sosialnya untuk menjadi anak semata wayang.
BIODATA
Windy Kiswha Cahlendra (Wendy),lahir di Kota Batu 13 Maret 1996
Saat ini sedang menempuh pendidikan jenjang.
S1 Pendidikan Luar Sekolah Univ.Negeri Malang.
Hobbinya
membaca,menulis,olahraga,mendengar setiap perkataan orang. Orangnya humoris..
Aktif
dalam berbagai organisasi diantaranya : Karate (INKAI),BEM FIP UM 2016, Forum
Pemuda Desa dan PRAMUKA. Karangan Tulisan bisa Dilihat di FB: Wendhy Soecrazy.

No comments:
Post a Comment