Thursday, March 10, 2016

Firasat Ibu untuk anaknya

Firasat Ibu untuk anaknya
Oleh: Wendy Kiswha Cahlendra 


Dalam suasana yang hening... sunyi... waktu itu hari sabtu pukul 06.30  tiba-tiba Bbruaaakk !! (Suara dari dalam kamar candra)
“Buuuk...!, Ibuuuk...!, Cepet buruan kesini” Teriak pemuda usia 18 tahun dengan nama candra.
Cepat cepat siIbu berlari ke kamar anaknya itu, kemudian.. jegrek ,Ibu  membuka pintu kamar candra dengan nafas yang cepat dan tersedu-sedu. “ada apa sih le... YaAllah kenapa semua kamu acak-acak kayak gini le...?” Ujar Ibunya candra dengan wajah lemas dan seolah dari matanya akan menumpahkan air mata.
“Ibu ini kemana saja sih..?!, ini seragamku sekolah belum disetrika, mana ini udah jam segini” ucap candra dengan nada setengah keras dan sinis, sambil melihat jam yang menempel didinding kamarnya.
“Kamu ini sudah SMA sebentar lagi sudah mau masuk perguruan tinggi, kok ya belum ada mandiri-mandirinya” kata ibunya candra dengan nada lembut.
“halah ibu ini malah ceramah, sudah ah setrikain dulu, aku mau sarapan” dengan melemparkan seragam sekolah kearah ibunya.
Beginilah yang dilakukan candra setiap kali kepada ibunya yang hanya tinggal denganya sebagai putra semata wayang karena ayahnya sudah meninggal saat candra duduk di bangku SD beberapa tahun silam dan mereka berkehidupan menengah kebaawah,candra memperlakukan seolah ibunya adalah pembantunya. Tak hanya itu saja candra adalah anak laki-laki yang super nakal dan jika ia meminta sesuatu pada orang tuanya harus dituruti, sak dhek sak nyet kata orang jawa timuran. Jika tidak dituruti kemauanya maka ia akan marah besar. Namun sebenarnya hati seorang ibu candra sering sakit karena ulahnya, apa daya ibu candra hanya bisa diam dan beristighfar dalam hatinya, serta menangis. Karena acapkali putranya tersebut dinasehati ia selalu keras dan selalu melawan.

***

Setelah selesai sarapan, ia langsung memakai seragam yang telah disetrika oleh ibunya .
“Bu... mana uang saku ?” sambil tangan kirinya menadah kearah ibunya
“ini le... hati-hati ya dijalan le” ibunya memberikan uang saku lima belas ribu dengan sikap yang tulus dan ikhlas.
Uang saku yang diberikan dan masih ditangan ibunya disahut langsung oleh candra,tanpa berpamitan dengan baik, bahkan cipika cipiki sebagai tanda anak ingin menempuh pendidikan agar ridho orang tua menyertai ia berangkat kesekolahdengan terbirit-birit, padahal sekolah hanya berjarak 400meteran dari rumahnya.
Sesampainya disekolah ia kena marah pak Ajiz seorang guru yang terkenal disiplin dan tegas (cukup ditakuti oleh murid-muridnya).
“Kau ini sudah berapa kali kau terlemabat, tidak tahu malu,..!  kelas tiga seharusnya memberi contoh yang baik” ucap pak Ajiz dengan mata memerah dan melotot kearah candra.
Candra memang hampir setiap hari terlambat kesekolah, dan itu merupakan kisah yang menghreankan para guru untuk murid satu ini.
“halah pak...pak... masih jam segini saja sudah dimarahi” kata candra sambil melihat jam tanganya dan seolah meremehkan peringatan pak ajiz.
Pak ajiz terdiam dan mengeleng-gelengkan kepalanya. Setelah candra mendapat ceramah dari pak Ajiz, ia diperbolehkan masuk kelas dan mengikuti pelajaran. Ditengah-tengah pelajaran ia tertidur dan dibangunkan oleh gurunya bu.marni.
“Ajiz... kamu ini tidur saja, ini perhatikan biar kamu itu bisa, dasar anak pemalas” sambi meng oprak-oprak candra.
Candra terbangun “Aduh bu sorrylah ngantuk berat ini, semalam habis begadang maen PS”
“Dasar anak nakal, yasudah kalo kamu emang nggak bisa di eman terserah” kata bu marni sambil menahan emosi kepada candra.

***

Sepulang dari sekolah candrapun pulang, masuk kedalam rumah tanpa mengucap salam, atau memberitahu ibunya. Ibu candra sedang tertidur disofa ruang tamu karena kelelahan setelah pulang dari bekerja sebagai buruh tani. Dalam tidur siangnya ibu candra bermimpi, dalam mimpinya menggambarkan anaknya candra sedang dilanda keadaan yang susah. Dan sekejap ibu candra terbangun.
“Astaghfirullah....” bergegas Ibu candra bangun menuju kamar mandi rumahnya untuk mencuci muka dan menuju dapur untuk minum.
“Candra....? le...?” Sontak ibunya memanggil-manggil candra, dengan derap langkah yang cepat menuju kekamar candra . dan membukanya secara perlahan.
“Aduh ibu ini apaan sih... berisik panggil-panggil” kata candra sambil menyisir rambutnya didepan cermin. Seperti akan kembali berangkat lagi padahal baru saja pulang sekolah.
“Alhamdulillah le... sudah pulang, kamu mau kemana ?, kok rapi sekali ?” tanya ibu
“Alah ... mau tau aja urusan anak muda ibu ini” , jawab candra dengan remeh
“mau kemana le... jawab pertanyaan ibu dengan jujur” dengan raut wajah yang penasaran.
“Cerewwet deh ibu ini... pliss bu... ini malam minggu, aku mau ngecamp sama teman-teman ke pantai, oh ya bu... minta uangnya ya... 100 ribu aja buat beli bekal dan keperluan” sahut candra memang dengan alasan yang jujur.
“Le... kok kamu mendadak begini, ibu lagi nggak enak badan, mbok ya kamu temenin ibu ya le...” kata ibu dengan memohon kepada sicandra.
“Halah bu...bu... sakit apa sih... wong jelas jelas sehat gini” dengan melirik ke arah ibu, dan sambil terus menyisir rambutnya.
Tak lama setelah perbincangan datang rombongan teman-teman candra dengan memakai motor, dari luar terdengar ada yang berteriak “Wooooyy dra... Let’s go”. Nampaknya salah satu teman candra yang berteriak.
“Tuh ... bu ayo mana uang sakunya, aku mau berangkat nih teman-teman udah pada nungguin” dengan tergopoh-gopoh dan tanganya menadah keibunya.
“Ibu ndak punya uang segitu le, ibu punya firasat buruk le... sebaiknya jangan pergi, temani ibu le...” Ibunya sambil meronta-ronta.
elah dalah.... tambah ceramah” lagi-lagi ucapan yang tidak sopan keluar dari mulut candra.
Tiiiin....tiiiin...  suara bel motor teman-teman candra. Tanda agar candra segera bergegas keluar dan berangkat. Segera ia keluar dan menuju kamar ibunya untuk mengambil uang dialmari tempat ibunya biasa menyimpan, ada sekitar 75 ribu yang ia ambil karena yang ada hanya itu. Segera ia keluar dan menyapa teman-temanya.
“Aduh lama bener kamu ndra” teman candra yang motrnya akan ditumpangi candra
sorrylah bro... ayo deh let’s go”  kata candra sambil bergegas naik motor dan memakai helm.
Berangkatlah candra dan teman-temannya. Untuk kesekian kalinya ibu candra menangis, dan raut kesedihan saat itu nampak jelas meratapi anaknya yang begitu tidak memiliki rasa hormat,sayang dan cinta pada ibunya. Tidak lama hanya selang 2 jam kemudian waktu itu pukul 6.30 sore, 2 orang polisi dan 1 orang berpakaian putih seperti orang yang bekerja dirumah sakit datang menhampiri ibu candra dan mengabarkan bahwa candra mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang kritis dirumah sakit kota ia tinggal. Sontak ibu candra kaget dan langsung bergegas menuju rumah sakit dengan menumpang mobil bapak polisi tersebut.
Sesampainya dirumah sakit ibu candra langsung diarahkan oleh bapak polisi keruangan dimana candra dirawat.
“YaAllah le... Ibu sudah bilang jangan pergi... sekarang kamu seperti ini” Ibu candra berkata sambil mengelus-elus kepala candra. Menangis karena tak tega melihat anaknya terkapar dengan luka disekitar tubuh dibalut banyak perban. Saat itu candra masih dinyatakan dalam keadaan koma karena kecelakaan yang dialami cukup parah.
Memang inikah jawaban dari sebuah mimpi yang dialami ibu candra sewaktu tertidur siang tadi ? , atau hanya sebagai refleksi bagi candra jika nantinya ia sembuh dari sakit yang dialaminya sewaktu kecelakaan ?. tentunya ada benarnya kita meyakini bahwa perkataan si Ibu adalah saran dan kebenaran mutlak bagi candra , untuk melakukan tindakanya kepada siapapun khususnya Ibunya yang seorang janda dan ia yang berperan dalam kehidupan sosialnya untuk menjadi anak semata wayang.



BIODATA

Windy Kiswha Cahlendra (Wendy),lahir di Kota Batu 13 Maret 1996
 Saat ini sedang menempuh pendidikan jenjang. S1 Pendidikan Luar Sekolah Univ.Negeri Malang.
Hobbinya membaca,menulis,olahraga,mendengar setiap perkataan orang. Orangnya humoris..
Aktif dalam berbagai organisasi diantaranya : Karate (INKAI),BEM FIP UM 2016, Forum Pemuda Desa dan PRAMUKA. Karangan Tulisan bisa Dilihat di FB: Wendhy Soecrazy.

No comments:

Post a Comment